wgYe7DTNtigGf4FgwVWS6Jsf7pUBmC9TCegh5mW4
Bookmark

Korupsi a La Stirner

Penulis: Finotrio Quintao Santos Ximenes

Korupsi a La Stirner | Foto;Ist

HitzTafenpah.comKontemporer ini, persoalan korupsi sangat signifikan untuk dibahas. Karena hampir di semua badan pemerintahan maupun nonpemerintahan selalu adanya kasus korupsi. Korupsi mulai merajalela dimana-mana. Para pembesar negara kini, memerintah bukan hanya dan demi kepentingan umum Sebagaimana tujuan terbentuknya sebuah negara. Namun, sebaliknya mereka memerintah hanya dan demi kepentingan pribadi mereka. Kehadiran sesama di sekitar mereka, tidak dihiraukan.

Mereka dengan dasi, jas, mobil  mewah dll,  berjalan tanpa memerhatikan ribuan orang yang berteriak minta tolong di pinggir jalan, di bawah jembatan dsb. Tangisan para kaum kelas bawah (meminjam kata Marx), dijadikan sebagai lagu yang mengiringi perjalan mereka (para aparat negara). 

Danah yang seharusnya dicairkan kepada masyarakat yang membutuhkan tidak tepat pada sasarannya. Semuanya, itu diambil, dicuri untuk mengisi ketebalan dompet mereka. Mereka, bekerja hanya dan demi diri mereka sendiri. Sebagaiamana terdapat dalam teorinya Stirner “Individualisme Radikal” dalam bukunya yang berjudul  The Ego and It’s Own.

 Dalam teori tersebut Stirner hadir dengan penegasan bahwa tolok ukur dari tindakan manusia adalah aku/saya. Sehingga, konsekuensi dari ang aku ini mengakibatkan orang bertindak dan bekerja demi dan untuk dirinya bukan untuk orang lain. Dengan demikian, penulis ingin mengajak para pemabaca untuk melihat tindakan korupsi dari teorinya Max Stirner.

Selayang Pandang Stirner

Johan Karspar schmidt atau lebih dikenal dengan nama samarannya, Max stirner. Ia  lahir di, Bayreuth, Bavaria, Jerman pada 25 Oktober 1806. Stirner lahir dari keluarga sederhana yang menganut agama Lutheran. Orangtuanya adalah, Albert Christian Henrich  Schmidt dan Sophia Elenora Reinlein. Ayahnya meninggal pada usia 37 tahun karena menderita sakit TBC (Kemudian ibunya menikah lagi).

ketika ibunya pindah dari Bayreuth, Stirner dirawat oleh bibinya agar dia dapat melanjutkan sekolahnya di Gimnasium lokal yang terkenal. Seusai pendidikan SMAnya di Gimnasium, Stirner kemudian melanjutkan studi sarjananya, dengan sedikit perbedaan akademis yang mencolok, di universitas Berlin, Erlangen, dan K√∂nigsberg. Di Berlin, ia diketahui pernah mengikuti tiga rangkaian kuliah yang diberikan oleh G.W.F. Hegel (1770-1831): tentang filsafat agama; tentang sejarah filsafat; dan pada filosofi "semangat subjektif". 

Menjelang akhir karir universitasnya, Stirner mencurahkan sebagian besar waktunya untuk "urusan keluarga", mungkin eufemisme untuk kesehatan mental ibunya yang memburuk[1].

 Teori-teronya Stirner amat mempengaruh di abad XVII terutama teoronya mengenai “ Individualisme Radikal” dalam bukunya yang berjudul “The Ego, and It’s Own"  (individu dan miliknya). Ia juga dikenal sebagai seorang filsuf antistastis Jerman. Dan pemikirannya juga seringkali dianggap sebagai sumber esistensialisme di abad XX.

Melihat Korupsi Dalam “Aku-nya” Stirner

Dalam bukunya yang berjudul  The Ego and It’s Own,  tercantung jelas bahwa Stirner mendewakan-dewakan sang aku. Aku menjadi titik utama dari pemikirannya. Bagi stirner aku atau saya berhak melakukan segala sesuatu yang aku bisa[2]

Aku bisa berperang melawan para dewa dan manusia-manusia lain jikalau aku mau. Aku menjadi penentu bagi segala sesuatu yang akan kulakukan. Jadi Tuhan, orang lain dan norma-norma yang diciptakan oleh sebuah institusi atau lembaga tidak menjadi pembatas bagi aku untuk berekspresi. Hanya aku sendiri yang menentukan hakku bukan orang lain. Jadi aku bebas untuk bertindak dan itu semua tergantung pada  aku. 

Dengan hak dan kemauan dari dalam diriku , aku bisa mebunuh orang lain jika hal itu dipandang baik olehku. Dan dalam teorinya, ia mencoba untuk menghubungkamn tali persatuan antara hak milik dan kuasa. Sebagaimana luasnya hakku demikian pun dengan kepemilikanku.  Milikku hanya dibatasi oleh kuasa orang untuk mengambilnya. 

Karena itu, aku hendak berusaha untuk mengambil kuasa aku dengan kekerasan agar dapat menjadi milikku. Apa yang menjadi hakku yaitu apa yang berada dalam diriku, hakku tidak dapat diperoleh dari orang lain, sebab di luar aku tidak ada hak. Andaikata sesuatu tidak dianggap hak oleh seluruh dunia, namun itu tetap merupakan hak bagiku, aku tidak menghiraukan seluruh dunia.[3]

 Sikap demikian yang dilabeli sebagai individualisme radikal. Dimana semuanya menjadi egosentris, di luar aku tidak ada hak. Aku hanya tidak dapat melakukan sesuatu jika tidak diizinkan olehku. Sifat egoisme ini yang sedang berkembang biak dalam pribadi-pribadi yang berada dalam ranah pemerintah maupun nonpemerintah masa kini. Dimana, mereka tidak menghiraukan lagi sesama dan lingkungan di sekitar mereka. Mereka  merasa nyaman dengan dunia mereka sendiri sehingga, mengambil uang rakyat pun mereka tidak merasa bersalah. 

Karena, mereka beranggapan bahwa itu adalah hak dan milik mereka. Jadi mereka bebas untuk memakainya sesuai dan bahkan melebihi kebutuhan mereka. Tidak ada orang dan hukum yang bisa mengatur atau memberhentikan mereka, karena mereka menjadi penentu bagi segala tindakan mereka.

Pada akhirnya, konsep aku yang diutarakan oleh Max Stirner ini dapat dipahami sebagai penguasaan diri yang lebih mengutamakan kepemilikan pribadi “ sang aku”. 

Sang akunya Stirner ini merupakan suatu ketiadaan. Dengan ini sebenarnya  Stirner ingin menyatakan penolakannya akan kecenderungan esensialis. 

Para koruptor adalah politikus yang hanya mengedepankan kepentingan pribadi mereka. Sebab, bagi mereka hal yang menjadi fundamen  adalah kenyamanan  dan kenikmatan pribadi. Sifat demikian yang terdapat dalam dunia pemerintahan di nusantara ini. Kebanyakan orang tidak bisa membedakan apa yang menjadi milik pribadi dan milik rakyat. Sehingga yang terjadi adalah penyalaguhan kekuasan demi kepentingan diri.



[2] K Bertens, Filsuf-filsuf besar Tentang Manusia (Jakarta Gramedia 2017), hlm. 152

[3] Raja Cahaya Islam, “Subjek Politik Egois Max Stiner”: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, Vol 5, No. 2 (2020): 172-196


Posting Komentar

Posting Komentar