wgYe7DTNtigGf4FgwVWS6Jsf7pUBmC9TCegh5mW4
Bookmark

Drama Perpisahan Memilukan dari Duo Suster Katolik, Tapi Berakhir dalam Satu Ruang Pelayanan



Drama Perpisahan Memilukan dari Duo Suster Katolik, Tapi Berakhir dalam Satu Ruang Pelayanan | Gambar; Instagram @katolik.id


HitzTafenpah.com - Perpisahan memilukan dari kedua anak kembar terjadi pada tahun 1963. Dramatisnya, meskipun kedua anak kembar ini diasuh oleh dua keluarga berbeda, namun pada akhirnya mereka menjadi Suster Katolik.

Kisah perpisahan ini sangat menyentuh, jika difilmkan, populirasnya bakal mengalahkan film-film yang bergenre Self Improvment di manapun.

Kedua anak ini bernama Elizabeth dan Gabriela. Sang Ibunda bernama Cecilia. Setelah berjuang selama 9 bulan, akhirnya Cecilia meninggalkan kedua anaknya.

Peristiwa itu terjadi, pasca operasi caesar. Maksud dan tujuan dari tim media adalah baik, karena persalinan Cecilia mengalami masalah.

Sayangnya takdir berkata lain. Sejak saat itu, Elizabeth dan Gabriela diasuh oleh keluarga yang berbeda.

Elizabeth dirawat oleh ayahnya. Sementara adiknya Gabriela dirawat oleh tantenya.

Perjalanan panjang itu membawa kerinduan amat mendalam di hati sang ayah. Karena istri tercintanya belum sempat melihat anak kembar mereka.

Kenyataan hidup ini tidaklah mudah. Namun, bagaimanapun, kedua anak kembar ini harus dirawat dengan sejuta cinta.

Keduanya beranjak tumbuh dewasa, entah sudah berapa tahun, keduanya terpisahkan oleh jarak.

Anehnya, saat kumpul bareng keluarga, Elizabeth dan Gabriela saling bersay hello, bermain layaknya anak-anak pada umumnya.

Tapi, mereka tidak tahu, kalau keduanya adalah saudara kembar. Miris banget.

Hematnya, setelah memasuki usia 10 tahun, rahasia itu diketahui oleh keduanya dari pembicaraan tetangga.

Pantas saja, keduanya memiliki hobi yang sama, dan hal-hal lain yang membuat mereka semakin yakin, kalau mereka adalah kembaran yang terpisah.

Pencarian jati diri membawa mereka pada komunitas Kristinai, terutama mereka terinspirasi dengan kehidupan Suster St. Elizabeth.

Mereka pun memutuskan untuk menjadi Suster. Elizabeth mendapatkan restu dari sang Ayah. Tapi, Gabriela tidak direstui oleh tantenya.

Akhirnya, Elizabeth masuk menjadi suster. Lama kelamaan, sang adik Gabriela gelisah dan berontak.

Diam-diam ia menyusul kakaknya dan masuk menjadi suster.

Lima tahun kemudian, keduanya mempersiapkan diri untuk mengikrarkan kaul kekal. 

Saat yang bersamaan, tantenya Gabriela merestuinya, setelah bertemu dengan Pastor Paroki setempat.

Dalam komunitas Biara, mereka kembali dipersatukan oleh ruang rasa. Perasaan haru dan tangis serta kebahagiaan pun dirasakan oleh ayahnya.

Ibu mereka yang sudah sekian purnama meninggal pun pasti bangga dengan panggilan hidup anaknya.

Cerita ini menggambarkan bagaimana kehidupan yang diawali dengan perpisahan, namun dalam Nama Tuhan Yesus, tiada yang mustahil.

Sebagaimana yang dialami duo suster Katolik, Elizabeth dan Gabriela yang telah berpisah bertahun-tahun, tapi pada akhirnya mereka disatukan kembali, dalam ruang pelayanan.

Sumber; aleteia.org



Posting Komentar

Posting Komentar